İqbal Musyaffa
26 Februari 2019•Update: 26 Februari 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Lembaga non-profit perlindungan dan pelestarian satwa liar International Animal Rescue (IAR) Indonesia siap untuk melepasliarkan 16 ekor kukang Sumatera (Nycticebus Coucang) di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Lampung.
Dokter hewan IAR Indonesia Imam Arifin Aljani mengatakan sebelum pelepasliaran, kukang-kukang tersebut terlebih dahulu akan menjalani masa habituasi sejak Senin kemarin hingga empat minggu ke depan untuk memastikan mereka siap hidup di alam bebas.
Imam mengungkapkan kukang-kukang yang menjalani habituasi kali ini terdiri dari 8 individu jantan dan 8 individu betina, masing-masing adalah Kamal, Burik, Jumat, Ucil, Sandi, Sunnah, Adele, Jungle, Anis, Tenon, T2, Dela, Wana, Romi, Bungsu dan Sani.
“Mereka sudah ditranslokasi atau dipindahkan dari Pusat Rehabilitasi Primata IAR Indonesia di kaki Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, ke Kawasan TNBBS pada Minggu malam,” ujar Imam dalam keterangan resmi, Selasa.
Imam mengatakan sebagian besar dari keenam belas primata yang dilindungi ini merupakan korban penyelundupan ratusan kukang yang terjadi di Pelabuhan Merak, Banten pada 2013 lalu. Sementara lainnya adalah kukang serahan masyarakat yang telah sadar akan kelangsungan hidup kukang di alam kepada BKSDA.
Imam menambahkan kukang-kukang tersebut sudah siap kembali ke alam bebas setelah melewati serangkaian pemulihan dan perawatan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia. Proses panjang ini harus mereka jalani untuk mengembalikan sifat liar alaminya.
“Kondisi kukang yang menjadi korban perdagangan dan peliharaan umumnya memprihatinkan. Mereka mengalami trauma, stres, dehidrasi, malnutrisi, hingga perubahan perilaku,” jelas dia.
Menurut Imam, tahapan untuk mengembalikan perilaku alaminya dimulai dari karantina dan pemeriksaan medis guna memastikan mereka tidak mengidap penyakit. Tindakan selanjutnya yang akan dilakukan berupa observasi perilaku, pengenalan pakan alami sampai mereka layak dan dinyatakan sehat serta siap ditranslokasi untuk jalani habituasi.
Manajer Program IAR Indonesia Robithotul Huda menjelaskan habituasi merupakan salah satu tahap akhir bagi kukang sebelum benar-benar dilepasliarkan. Proses ini bertujuan agar mereka dapat memulihkan kondisinya setelah melalui perjalanan panjang sekaligus beradaptasi di lingkungan barunya.
Dia menjelaskan habituasi yang menjadi tempat tinggal sementara kukang ini berupa lahan terbuka dengan berbagai jenis pepohonan alami untuk pakan dan tempat tidur kukang yang dikelilingi pagar fiber sebagai pembatas.
Huda mengungkapkan selama proses habituasi, tim pemantau dari IAR Indonesia dibantu masyarakat lokal setiap malamnya akan tetap mengamati dan mencatat perkembangan perilaku primata nokturnal tersebut
“Jika selama masa habituasi semua kukang terlihat aktif dan tidak menunjukan perilaku abnormal, barulah mereka benar-benar bisa dilepasliarkan ke alam bebas,” imbuh dia.