Gokhan Ergocun, Yunus Girgin
ISTANBUL
Sanksi baru Amerika Serikat (AS) tidak akan mempengaruhi sebagian besar bidang militer Turki, termasuk Kementerian Pertahanan Nasional, Angkatan Bersenjata Turki, dan perusahaan produsen pertahanan, kata kepala Direktorat Industri Pertahanan Turki (SSB) pada Kamis.
Berbicara kepada dewan redaksi Anadolu Agency, Ismail Demir mengatakan sanksi tersebut hanya menargetkan instansi pemerintah Turki, tetapi tidak akan mempengaruhi kesepakatan yang sudah ditandatangani.
Sanksi itu tidak diberlakukan untuk semua badan di negara itu, tetapi hanya untuk satu institusi di Turki dan empat orang, tutur Demir.
"Kementerian Pertahanan Nasional, Angkatan Bersenjata Turki, dan pasukan keamanan kami tidak terkena sanksi," tegas dia.
Menuturkan sanksi hanya menargetkan satu institusi, yaitu SSB, Demir mengatakan SSB bukanlah institusi yang memenuhi kebutuhan peralatan jet tempur F-16 AS.
Tahun lalu, Turki ditangguhkan dari program F-16 AS karena Turki membeli sistem pertahanan rudal dari Rusia.
Mengkritik sanksi tersebut, Demir mengatakan sanksi itu dijatuhkan oleh AS karena Turki, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, menolak untuk "tunduk pada perintah mereka".
- Turki tak didefinisikan sebagai musuh
AS pada Senin memberlakukan sanksi terhadap Turki atas pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.
Sanksi berdasarkan Undang-Undang Penentang Lawan Amerika Melalui Sanksi (CAATSA) itu menargetkan Direktorat Industri Pertahanan (SSB) Turki, termasuk Ismail Demir, kepala SSB, dan tiga pejabat lainnya.
Menjelaskan bahwa Turki tidak didefinisikan sebagai "musuh" oleh AS, Demir mengatakan tujuan sanksi, seperti yang diumumkan oleh otoritas AS, bukanlah untuk merugikan sektor pertahanan Turki.
Dia juga menyoroti bahwa sanksi tersebut tidak akan menimbulkan hambatan bagi Turki, melainkan akan meningkatkan tekadnya untuk berkembang.
Menekankan tugas Turki untuk mengembangkan industri pertahanannya, Demir mengatakan berkat upaya ini, sekarang negara itu memiliki lebih dari 1.600 perusahaan pertahanan lokal.
Demir juga menyoroti bahwa Turki tidak memiliki masalah dalam mengakses sumber daya keuangan, menambahkan bahwa masalah itu belum terjadi sampai sekarang. Kontraktor utama ikut bermain di mana mekanisme kredit akan digunakan."
Demir menekankan bahwa solusi akhir bagi Turki adalah memproduksi mesin domestiknya sendiri.
“Dalam proses ini, kami bertemu dengan otoritas, negara, dan perusahaan yang terbuka untuk kerjasama, produksi dan pengembangan bersama dengan kami,” tambah dia.
Sistem pertahanan rudal
Menekankan bahwa sistem pertahanan udara S-400 yang dibeli oleh Turki adalah yang terbaik di kelasnya, Demir menambahkan adanya pembicaraan dengan China untuk waktu yang lama, tetapi itu ditunda karena beberapa alasan pada saat itu.
“Pada tahap selanjutnya, kami melanjutkan negosiasi dengan Amerika, Italia, dan Prancis. Tidak ada pembelian sistem Patriot [AS] di bawah kondisi yang kami inginkan," ujar dia.
Turki menyebut penolakan AS untuk menjual rudal Patriot sebagai salah satu alasan mengapa mereka membeli S-400.
Setelah semua ini, negosiasi untuk S-400 dimulai, tambah dia.
Pada April 2017, ketika upaya berlarut-larut untuk membeli sistem pertahanan udara dari AS tidak membuahkan hasil, Turki pun menandatangani kontrak dengan Rusia untuk membeli rudal S-400.
Akuisisi Turki atas sistem pertahanan udara S-400 Rusia yang canggih mendorong AS untuk menghapus Turki dari program F-35 pada Juli 2019.
AS mengklaim sistem tersebut dapat digunakan oleh Rusia secara diam-diam untuk mendapatkan informasi rahasia pada jet tersebut dan tidak sesuai dengan sistem NATO.
Turki pun membantah bahwa S-400 tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem NATO dan tidak akan menimbulkan ancaman bagi aliansi tersebut, dan mengusulkan komite untuk memeriksa masalah tersebut.
Negara itu juga mengatakan pihaknya membeli sistem Rusia setelah AS selama bertahun-tahun menolak upayanya untuk membeli rudal Patriot AS.
news_share_descriptionsubscription_contact


