Maria Elisa Hospita
10 Januari 2018•Update: 11 Januari 2018
Izzet Mazi
KILIS, Turki
Ramzia Basmaji akhirnya pulang ke Suriah setelah mengungsi selama lima tahun di Turki.
Ia adalah salah satu dari 120 warga Suriah yang dipulangkan dari Turki ke utara Suriah, kota Azaz.
"Turki adalah negara yang sangat indah. Turki telah menjadi tanah air kami, sama halnya dengan Suriah, namun anak-anak saya ada di sana [Suriah], jadi saya memutuskan untuk kembali," tutur Basmaji kepada Anadolu Agency.
Pemulangan pengungsi Suriah terwujud berkat program sukarelawan. Para pengungsi dipulangkan menggunakan minibus, setelah menjalani pemeriksaan keamanan di perbatasan Oncupinar di provinsi Kilis, Turki selatan.
Kota yang terletak persis di seberang perbatasan Turki, dibebaskan dari kepungan kelompok teroris Daesh oleh Tentara Pembebasan Suriah (FSA) pada Agustus 2016.
Pejuang FSA di perbatasan juga membantu pemulangan warga sipil ke Suriah.
Husain Muhammad, salah satu warga Suriah yang kembali, mengatakan bahwa dirinya senang bisa bersatu dengan keluarganya kembali.
"Saya berterima kasih pada bangsa Turki. Mereka menerima kami sebagai tamu. Kami telah berada di sini selama lima tahun. Mereka memberi kami pekerjaan dan makanan. Namun sekarang kami ingin kembali ke rumah. Saya merindukan negara saya, keluarga saya, desa saya, dan segala sesuatu yang ada di sana," ungkap dia.
Sejak 1 Desember 2015, hampir 62.000 warga Suriah telah kembali ke rumah mereka melalui gerbang perbatasan Oncupinar.
Pada 2016, Turki meluncurkan Operasi Perisai Eufrat, sebuah kampanye militer yang bertujuan untuk menggempur teroris Daesh dari wilayah perbatasan Turki-Suriah.
Suriah dirundung perang saudara sejak 2011. Menurut PBB, konfik tersebut telah mengakibatkan ratusan ribu orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi.
Turki saat ini menampung 3,2 juta pengungsi Suriah, atau paling banyak daripada negara lainnya.