Alex Jensen, Michael Hernandez
29 November 2017•Update: 29 November 2017
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) telah mendeteksi sinyal radio yang mengindikasikan adanya persiapan peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) dari Korea Utara pada Selasa.
Menteri Pertahanan James Mattis mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa rudal tersebut "ditembakkan lebih tinggi daripada tembakan sebelumnya" dan menyebut uji coba tersebut sebagai "upaya penelitian dan pengembangan program rudal balistik yang dapat mengancam dunia".
Korea Selatan pun menanggapi peluncuran tersebut dengan sigap.
Kantor Presiden Moon Jae-in mengatakan, presiden menggelar pertemuan Dewan Keamanan Nasional, sementara militer melakukan simulasi serangan balik ke Korea Utara sekitar lima menit setelah uji coba rudal Pyongyang.
Menurut Kepala Staf Gabungan, Angkatan Udara, Laut, dan Udara Seoul menggelar latihan gabungan dekat perbatasan laut dengan Korea Utara.
"Militer kami mengawasi aktivitas militer Korea Utara selama 24 jam," kata Kepala Staf Gabungan dalam pernyataan.
Mattis mengatakan bahwa Korea Selatan menembakkan beberapa rudal pinpoint ke laut untuk memastikan Korea Utara paham bahwa mereka dapat diserang oleh sekutu.
Beberapa jam sebelumnya, Menteri Unifikasi Korea Selatan Cho Myoung-gyon memperingatkan bahwa "Korea Utara bisa mengumumkan selesainya program ICBM mereka dalam satu tahun".
Korea Utara telah mengembangkan senjata nuklir lebih cepat dari yang diperkirakan," kata Cho.
Lewat Twitter-nya, juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan, Presiden AS Donald Trump "telah diberi pengarahan mengenai situasi di Korea Utara, saat rudal masih mengudara".
"Saya hanya akan mengatakan bahwa kami akan menyelesaikan masalah ini. Saat ini kami sedang bersama Jenderal Mattis untuk membahas masalah ini," ujar Trump dalam pertemuan dengan pimpinan Kongres di Gedung Putih.
Rudal terdeteksi pukul 1:17 siang (1817GMT) dan diluncurkan dari Sain Ni, tepat di utara ibu kota Korea Utara.
"Rudal tersebut meluncur sekitar 1.000 kilometer sebelum akhirnya meledak di Laut Jepang di Zona Ekonomi Eksklusif Jepang," jelas juru bicara Kolonel Robert Manning dalam pernyataan.
Komando Pertahanan Luar Angkasa Amerika Utara (NORAD) menegaskan bahwa rudal tersebut tidak membahayakan Amerika Utara, wilayah AS, maupun sekutunya.
"Kami berkomitmen untuk menjaga sekutu kami, termasuk Korea Selatan dan Jepang, agar tetap kuat dalam menghadapi ancaman ini. Kami terus bersiaga untuk membela diri kami dan sekutu kami dari serangan atau provokasi apapun," tandas Manning.
Uji coba ICBM terakhir dilakukan pada 15 September, yang melintasi wilayah udara Jepang sebelum akhirnya meledak di Samudera Pasifik.
Menteri Luar Negeri Rex Tillerson mengatakan bahwa untuk saat ini masih ada ruang untuk solusi diplomatik.
"Sebagai tambahan untuk sanksi PBB yang sudah ada, masyarakat internasional harus bekerja sama meningkatkan keamanan maritim, termasuk menunda lalu lintas barang dari dan ke Korea Utara," kata Tillerson dalam pernyataan.
Ia menambahkan, "Korea Utara melancarkan program senjata nuklirnya tanpa henti. Artinya, pengiriman barang ke Korea Utara juga harus dihentikan. Masyarakat internasional juga harus tegas menyampaikan pada Korea Utara untuk menghentikan program senjata pemusnah (WMD) mereka".
AS dan Kanada akan mengadakan pertemuan dengan komando persatuan PBB untuk pasukan multinasional, termasuk Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara lainnya yang terkena dampak untuk mencari solusi bagaimana masyarakat internasional dapat melawan Korea Utara.
Sepanjang 2017, Korea Utara telah melakukan uji coba rudal sebanyak 15 kali dan uji coba nuklir keenam pada September.
*Alex Jansen, Kasim Ileri, dan Safvan Allahverdi melaporkan dari Seoul, Korea Selatan dan Washington