Safvan Allahverdi
18 Januari 2018•Update: 19 Januari 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson pada Rabu malam mengatakan, Washington berutang sebuah penjelasan pada Turki mengenai kabar pembentukan pasukan perbatasan di Suriah utara, menurut laporan media AS.
“Kami berutang penjelasan kepada Turki. Seluruh situasi ini digambarkan dengan salah, salah ditafsirkan, dan beberapa orang salah bicara. Kami sama sekali tidak membentuk pasukan keamanan perbatasan,” kata Tillerson kepada wartawan dalam perjalanan pulang dari memberikan pidato di Stanford University, California.
Koalisi internasional melawan Daesh yang dipimpin AS pada Minggu menyatakan bahwa mereka akan membentuk pasukan keamanan baru dengan kekuatan 30.000 pasukan yang berkolaborasi dengan SDF/PKK -- sebuah kelompok yang sebagian besar dikendalikan dan diawaki oleh organisasi teroris PKK/PYD.
Tillerson mengatakan dia telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu di Vancouver, Kanada pada Selasa saat menghadiri pertemuan mengenai Korea.
Dia mengatakan telah memberi tahu Cavusoglu bahwa tujuan AS adalah melatih pasukan lokal untuk berperang melawan militan Daesh yang tersisa di Suriah.
"Kami melihat ISIS [Daesh] masih menyerang di bagian barat laut Suriah dan di sepanjang lembah Eufrat, jadi ini hanya latihan tambahan dan upaya untuk menutup jalur pelarian ISIS [Daesh]," kata Tillerson.
"Kami mengerti mengapa mereka bereaksi seperti ini," kata dia, soal persiapan Turki melakukan operasi terhadap PKK/PYD.
PKK/PYD merupakan cabang Suriah dari PKK yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa.
Sejak pertengahan 1980-an PKK telah melancarkan serangkaian kampanye teror untuk melawan Turki, hingga menewaskan sekitar 40.000 jiwa termasuk wanita dan anak-anak.
Setelah gencatan senjata kecil, PKK kembali melancarkan perang pada Juli 2015. Sejak saat itu, PKK bertanggung jawab atas tewasnya sekitar 1.200 jiwa.
Sebelumnya pada hari yang sama, Tillerson mengatakan bahwa AS akan terus bekerja sama dengan Turki dan mempertimbangkan kekhawatiran Ankara mengenai PKK.
Juga pada Rabu, Pentagon menyatakan bahwa pasukan baru yang kontroversial itu bukanlah "tentara" baru atau pasukan "penjaga perbatasan" konvensional.
"AS melanjutkan melatih pasukan keamanan lokal di Suriah. Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan keamanan bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal sehingga bisa kembali ke rumah mereka yang telah hancur," kata juru bicara Pentagon Eric Pahon dalam sebuah pernyataan tertulis.
"Ini juga penting agar ISIS [Daesh] tidak muncul kembali di daerah yang telah bebas," tambah dia.