Mohamed Majid dan Adem Salvarcioglu
GAZA CITY, Palestina
Sebuah keluarga Palestina pada Sabtu menuduh badan intelijen Israel Mossad membunuh seorang dosen Palestina di Malaysia.
Fadi Mohammed al-Batsh, 35 tahun, ditembak mati oleh dua orang pelaku dekat rumahnya di Kuala Lumpur pada Sabtu, menurut polisi Malaysia.
"Tersangka melepaskan 10 tembakan, empat dari itu menghantam dosen itu di bagian kepala dan tubuhnya. Dia meninggal seketika," kata kepala polisi Kuala Lumpus Mazlan Lazim kepada kantor berita Bernama.
Mazlan mengatakan rekaman video menunjukkan dua pelaku itu menunggu sekitar 20 menit untuk kedatangan dosen Palestina tersebut.
"Kami percaya mereka sengaja menargetkan dosen itu karena dua orang melalui jalanan tersebut tanpa terluka," kata dia.
Keluarga korban mengatakan Mossad melakukan pembunuhan itu.
"Kami menuduh Mossad sebagai dalang di balik pembunuhan dosen peneliti energi itu," kata keluarga al-Batsh di Jalur Gaza melalui sebuah pernyataan.
Mereka menuntut agar polisi Malaysia menyelidiki kasus pembunuhan ini.
Belum ada pernyataan dari pihak Israel untuk menanggapi tuduhan tersebut.
Sementara itu, kelompok Hamas Palestina memastikan dosen itu adalah anggota kelompok mereka.
"Dia sangat dipercaya untuk keahliannya dalam bidang sains," kata Hamas lewat sebuah pernyataan.
Namun mereka tidak menunjuk jari mengenai pembunuh al-Batsh.
Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi mengatakan pembunuhan itu mungkin dilakukan oleh agen asing atau negara tidak bersahabat.
"Serangan itu bisa menjadi aksi dari agen asing atau negara yang menentang Palestina," kata Hamidi.
Dia juga mengatakan al-Batsh memiliki peran aktif dalam LSM-LSM yang membela Palestina dan berhubungan dengan intelijen dari sebuah negara, yang tidak dinamakannya.
"Kami akan menyelidiki kasus ini dengan teliti hingga pelaku ditangkap," tambahnya.
Pada 2016, ahli pesawat drone Palestina Mohamed al-Zawari ditembak mati di Tunia, dan Hamas menuduh Israel membunuhnya.
Israel diduga membunuh sejumlah aktivis-aktivis Palestina di negara-negara asing.
news_share_descriptionsubscription_contact
