Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia mengajak perusahaan penerbangan Boeing untuk memproduksi bahan bakan pesawat biofiel (bioavtur) berbasis kelapa sawit.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan mengundang Boeing meningkatkan bisnis, agar bisa menjadi bagian dari strategi masa depan yang saling menguntungkan.
Bioavtur, menurut Menteri Enggar bisa bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dibanding bahan bakar berbasis fosil. Indonesia juga menawarkan menjadi tempat pengembangan suku cadang pesawat, serta layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul (maintenance, repair, overhaul/MRO).
“Indonesia bisa menjadi ‘hub’ pelayananan MRO pesawat udara di kawasan ASEAN dan sekitarnya,” ungkap Menteri Enggar dalam siarannya, Jumat.
Menteri Enggar berkunjung ke Amerika Serikat dalam misi dagang dan peningkatan kerja sama dengan pengusaha serta pemerintah negara tersebut.
Menurut Menteri Enggar, pemerintah akan memfasilitasi pertemuan Boeing dan Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) yang telah mengembangkan biofuel dan ekspor secara global.
Boeing sudah hadir di Indonesia pada 1949, sejak saat itu kebutuhan pesawat Boeing terus meningkat seiring dengan semakin berkembangnya jalur penerbangan baik domestik maupun internasional. Pada 2012, Lion Air membeli sebanyak 50 unit pesawat Boeing tipe B737 MAX 10 dengan nilai mencapai USD6,24 miliar atau Rp85,5 triliun.
Hingga kini, ini adalah pembelian terbesar dalam sejarah Boeing yang dilakukan oleh sebuah maskapai.
“Dengan Boeing, kita harus kembangkan kerja sama saling menguntungkan,” ujar Menteri Enggar.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan total perdagangan Indonesia dan AS pada 2017 sebesar USD 25,91 miliar. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia mencapai USD17,79 miliar dan impor Indonesia sebesar USD8,12 miliar. Dengan demikian, perdaganagn Indonesia surplus terhadap AS sebesar USD9,67 miliar.
Ekspor utama Indonesia ke AS antara lain udang, karet alam, alas kaki, ban kendaraan, dan garmen. Sementara impor utama Indonesia dari AS antara lain kedelai, kapas, tepung gandum, tepung maizena, serta pakan ternak.
Total perdagangan Indonesia-AS pada 2017 meningkat 10 persen dibandingkan 2016 yang tercatat sebesar USD23,44 miliar. Adapun tren perdagangan pada periode tahun 2013-2017 tumbuh positif sebesar 0,39 persen.
Sementara itu, nilai perdagangan kedua negara untuk periode Januari-Mei 2018 telah mencapai USD11,85 USD. Nilai ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar USD10,65 miliar.
Dalam misi dagangnya, pemerintah juga memfasilitasi pertemuan pengusaha Indonesia dan AS dalam forum bisnis dan one-on-one business matching. Ini adalah upaya untuk keseimbangan hubungan dagang dengan AS, yang merupakan salah satu pasar ekspor utama Indonesia.
Forum Bisnis dan one-on-one business matching menghadirkan 32 perusahaan Indonesia untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama di Washington DC. Delegasi bisnis dari Indonesia terdiri atas Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Asosiasi Eksportir Buah dan Sayur Segar Indonesia (ASEIBSSINDO), dan Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI)/Gabungan Importir Nasional Indonesia (GINSI).
Sementara itu, pelaku usaha dari Indonesia yang turut serta antara lain produsen ban mobil, minyak kelapa sawit, produk pertanian dan hortikultura, perikanan, baja, aluminium, tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, produk susu, serta consumer goods.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Arlinda, mengatakan misi dagang ke AS ini telah membuka kesempatan bagi Indonesia dan AS untuk meningkatkan perdagangan.
Selain penjajakan dengan Boeing, misi ini juga juga membuka peluang Indonesia untuk memperkuat industri serta meningkatkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) ke AS dengan dukungan bahan baku kapas dari AS.
news_share_descriptionsubscription_contact



