Astudestra Ajengrastrı
20 Juli 2018•Update: 21 Juli 2018
Alex Jensen
SEOUL
Media-media di Korea Utara pada Jumat memperingatkan hubungan intar-Korea bisa rusak bila Korea Selatan tak memulangkan belasan pekerja restoran yang kabur dari Korut pada April 2016.
Pyongyang secara konsisten menuduh Korsel menculik wanita-wanita yang selama ini ditempatkan di salah satu pos Korut di Tiongkok tersebut.
"Bila isu repartriasi warga negara wanita kami tak segera diselesaikan, masalah ini bisa menjadi penghalang tidak hanya bagi rencana penyatuan kembali keluarga-keluarga di kedua Korea, tapi juga seluruh hubungan antar-Korea," ujar media propaganda pemerintah Korea Utara, Uriminzokkiri.
Masalah ini muncul kembali bulan ini ketika pelapor khusus PBB tentang HAM di Korea Utara meminta investigasi yang "menyeluruh" dan "independen" setelah dia bertemu dengan para pembelot yang dimaksud.
Manajer restoran, yang tiba di Korea Selatan bersama para stafnya, telah beberapa kali berkata kepada media lokal sejak Mei bahwa dirinya diancam oleh agen-agen Seoul sehingga membuat kelompok ini memutuskan pergi ke Selatan.
Apa yang diklaim sebagai penculikan oleh Korea Utara ini menimbulkan permasalahan, karena Seoul secara spesifik menyebutkan tentang kasus ini hanya beberapa hari sebelum pemilihan umum 2016, meski Seoul sendiri telah menampung puluhan ribu pengungsi dari Utara sejak 1990-an.
Meski begitu, pengakuan manajer restoran ini mengindikasikan bahwa para stafnya dibujuk meninggalkan pos mereka di Tiongkok untuk bekerja di sebuah negara Asia Tenggara, yang menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut soal repartriasi mereka ke Korea Utara, mengingat perlakuan Pyongyang kepada pembelot dan keluarganya biasanya sangat keras.
Lebih lanjut, Korea Selatan mengatakan para staf restoran ini memasuki negaranya dengan kehendak sendiri.
Media Korea Utara lain, Arirang-Meari, juga menyebutkan hal sama, bahwa permasalahan para pekerja yang "diculik" ini tak diselesaikan, maka akan merusak hubungan bilateral yang telah mulai berkembang sejak pertemuan pertama kedua Korea setelah lebih dari seabad.
Permasalahan ini juga menimbulkan keraguan atas rencana menyatukan kembali keluarga-keluarga yang terpisah oleh perbatasan karena Perang Korea 1950-53. Reunifikasi ini seharusnya dilakukan bulan depan.