Pizaro Gozali İdrus
12 Maret 2018•Update: 12 Maret 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai Taliban belum menerima informasi secara utuh tentang konferensi perdamaian Afghanistan yang diinisiasi Indonesia, sehingga Taliban menolak untuk turut menghadiri pertemuan ulama tiga negara yang bakal digelar akhir Maret nanti.
“Ada kesan dari pihak Taliban seakan-akan Indonesia menjadi kepanjangan pemerintah Afghanistan dan kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat,” ujar Ketua MUI Bidang Luar Negeri Muhyiddin Junaidi saat dihubungi Anadolu Agency di Jakarta, Senin.
Muhyiddin menegaskan posisi Indonesia netral dalam konflik Afghanistan dan tidak memihak kepada salah satu pihak.
“Kita tidak pro pemerintah Afghanistan dan juga Taliban,” jelas Muhyiddin.
Namun demikian, Muhyiddin mengatakan MUI masih mengkaji penolakan Taliban apakah hal tersebut pernyataan resmi atau jawaban spontan atas pertanyaan media.
“Atau [penolakan] ini hanya test the water untuk mengetahui respon jika Taliban tidak ikut,” kata Muhyiddin.
Muhyiddin menegaskan, MUI sudah berencana memberikan undangan langsung ke Taliban dan menjelaskan maksud pertemuan tiga ulama.
Namun, kata Muhyiddin, MUI masih menunggu sinyal dari Pemerintah Pakistan yang banyak memberikan tempat kepada Ulama Taliban.
“Pakistan memegang kartu truf,” jelas Muhyiddin.
Sebelumnya, Taliban telah menyuarakan penolakan terhadap pertemuan ulama tiga negara Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia yang akan digelar di Jakarta.
"Dengan memberikan legitimasi kepada pemerintahan di Kabul dan dengan upaya propagandanya, AS ingin menipu negara-negara Muslim. Pertemuan para ulama di Indonesia atau beberapa negara Islam lainnya merupakan langkah yang menyesatkan," ujar Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, Sabtu.