01 November 2017•Update: 01 November 2017
SRINAGAR, Jammu and Kashmir
Pihak oposisi di Jammu Kashmir pada Selasa menolak tawaran dialog dengan India yang diajukan pekan lalu. Mereka mengatakan itu hanyalah "taktik mengulur waktu" sepele.
"Itu merupakan taktik mengulur waktu oleh pemerintah India yang mereka lakukan karena desakan internasional," kata pimpinan gerakan kebebasan Kashmir.
23 Oktober lalu, pemerintah India mengutus Dineshwar Sharma, mantan kepala badan intelijen India, untuk berunding dengan sejumlah pihak-pihak di Kashmir.
"Kedamaian tidak bisa dicapai hingga masalah Kashmir benar-benar dipahami dan dilihat dari konteks sejarah dan dengan latar belakang perjanjian internasional," kata pendukung pro-kebebasan Kashmir.
Gerakan kebebasan Kashmir itu terdiri dari aliansi Hurriyat dan Front Kebebasan Jammu Kashmir (JKLF).
"Sharma mengatakan dia akan ke sini untuk 'menciptakan kedamaian' dan bukannya merundingkan masalah atau resolusi yang bisa diambil. Berbicara dengannya akan sia-sia," kata mereka.
India telah beberapa kali mengirim utusan ke Kashmir namun belum pernah mencapai hasil yang nyata.
Setelah pemberontakan anti-India pada 2010, pemerintah India mengirimkan kelompok untuk berbincang dengan warga Kashmir dan menuliskan sebuah laporan. Namun laporan itu tidak pernah dibahas oleh India.
Gerakan oposisi menekan pentingnya berdialog secara terbuka sebagai solusi yang terbaik dan mengkritik komentar Sharma yang menyamakan konflik Kashmir dengan perang di Suriah.
"Dia membandingkan masalah politik dan kemanusiaan selama 70 tahun di Kashmir dengan pertempuran politik di Suriah. Itu adalah penipuan dan propaganda karena kedua hal tersebut sangat berbeda," tulis gerakan oposisi dalam rilis mereka.
Kashmir, wilayah Himalaya dengan mayoritas penduduk Muslim, terbagi menjadi area yang diduduki India dan Pakistan, serta sebagian kecil diduduki Tiongkok.
India dan Pakistan telah berperang 3 kali – pada 1948, 1965 dan 1971 – sejak berpisah pada 1947, dua pertempuran itu terkait Kashmir. Kelompok pemberontak di Jammu dan Kashmir terus berjuang untuk kemerdekaan dari kuasa India, atau untuk bergabung dengan Pakistan.
Lebih dari 70.000 orang telah tewas dalam konflik itu sejak 1989. India menempatkan lebih dari setengah juta tentara di area yang disengketakan itu.