Mümin Altaş
07 Desember 2017•Update: 08 Desember 2017
Mümin Altaş
ANKARA
Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menyatakan bahwa putusan AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah pukulan berat bagi upaya perdamaian Israel dan Palestina, Rabu.
“Keputusan ini merupakan pukulan berat terhadap upaya perdamaian Palestina-Israel dan proses perdamaian Timur Tengah,” kata Yildirim melalui sebuah pernyataan tertulis.
Yildirim juga menyatakan bahwa Turki tidak mengakui keputusan AS dan menilai keputusan ini sebagai contoh ketidaktanggungjawaban.
Dia mengecam keras semua pihak yang mengambil keputusan tersebut.
Yildirim juga menyatakan, langkah yang diperlukan akan diputuskan bersama pemimpin dunia Islam setelah masalah ini dibahas secara luas dalam pertemuan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang akan diselenggarakan 13 Desember mendatang.
Meski dunia menentang, Trump telah mengumumkan keputusannya untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu.
Yerusalem masih terus menjadi inti konflik Israel-Palestina, dengan harapan warga Palestina agar bagian timur Yerusalem -- yang diduduki oleh Israel pada tahun 1967 -- dapat menjadi ibu kota dari Negara Palestina di masa depan.
Selama kampanye pemilihannya tahun lalu, Trump berulang kali berjanji untuk memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Turki akan menjadi tuan rumah pertemuan luar biasa OKI pada 13 Desember untuk membahas pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel.