Chandni
28 Maret 2018•Update: 28 Maret 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Tuntutan tidak akan dilayangkan terhadap dua polisi Louisiana berkulit putih dalam insiden penembakan fatal seorang pria berkulit hitam pada 2016, kata pihak berwenang pada Selasa.
Keputusan untuk tidak menuntut polisi-polisi itu dibuat menyusul investigasi yang mengungkapkan mereka bertindak secara "wajar dan masuk akal," Jaksa Agung Louisiana Jeff Landry kepada wartawan.
Setelah bertemu dengan keluarga Alton Sterling, pria yang tewas ditembak oleh petugas polisi Blane Salamoni dan Howie Lake di luar sebuah toserba di Baton Rouge, Landry mengatatakan hasil investigasi menunjukkan polisi mencoba "menahan Sterling secara hukum" berdasarkan alasan yang jelas.
"Departemen Kehakiman Louisini tidak bisa menuntut Lake atau Salamoni," kata Landry, yang juga menyalahkan Sterling karena mencoba melawan ketika polisi mencoba menahannya.
Salamoni menembak Sterling enam kali ketika mereka bergumul. Sterling berada di luar toko itu menjual CD musik.
Keluarga Sterling mengkritik keputusan tersebut.
"Mereka tidak akan menuntut siapapun. Tentu, karena ini adalah Amerika milik kulit putih," kata tante Sterling, Veda Washington-Abusaleh.
Kuasa hukum keluarga Sterling juga mengecam "keputusan yang berpihak" itu dan mendesak publik menuntut pertanggung jawaban Landry.
Juni tahun lalu, Departemen Kehakiman juga mengambil keputusan yang sama. Mereka mengaku kematian Sterling itu "tragis", namun tidak memenuhi "standar hukum tinggi" yang diperlukan untut menuntut para polisi.
Departemen Kehakiman menjelaskan rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum penembakan, dan mengatakan ketika polisi pertama mendatangi Sterling, dia menolak mendengar mereka hingga Sterling dan Salamoni bergumul di tanah.
Di tengah itu, Salamoni berteriak bahwa Sterling sedang mengambil senjatanya dan kemudian menembak Sterling tiga kali di bagian dada. Setelah itu, lagi-lagi Salamoni melepaskan tiga tembakan lainnya.
Seluruh kejadian terekam oleh kamera tubuh polisi dan kamera toko tersebut.
Insiden penembakan fatal itu memantik kemarahan publik dan unjuk rasa besar-besaran di seluruh AS, yang digelar oleh kelompok aktivis Black Lives Matter.