Muhammad Abdullah Azzam
04 Juni 2018•Update: 04 Juni 2018
Adem Şalvarcıoğlu
ANKARA
Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Minggu meminta maaf kepada Kuwait mengenai kritikan keras terhadap negara tersebut karena gagal melindungi hak-hak para pekerja Filipina.
Menurut berita dari Channel News Asia, Duterte menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dia telah menggunakan pernyataan keras seperti itu.
"Saya mengakui bahwa kata-kata yang saya gunakan pada saat itu sangat kasar, kalimat yang saya gunakan itu merupakan reaksi dari ledakan emosi. Saya meminta maaf atas ungkapan kasar ini," ujar dia.
Duterte mengatakan dia akan pergi ke Kuwait dalam waktu dekat untuk menyampaikan permintaan dari para pekerja Filipina agar mencapai solusi atas masalah tersebut.
Pada bulan lalu Duterte mencabut larangan pengiriman pekerja migran ke Kuwait, yang menandai berakhirnya pertikaian diplomatik panas dengan negara tersebut.
Larangan itu diberlakukan Februari lalu, setelah serangkaian kematian pekerja Filipina di Kuwait.
Permasalahan berawal ketika sejumlah tenaga kerja asal Filipina di Kuwait hilang.
Permasalahan ini berubah menjadi krisis diplomatik setelah video kendaraan-kendaraan kedutaan besar Filipina menculik pekerja wanita dari rumah tempat mereka bekerja tersebar di media sosial.
Selain itu, pasukan keamanan Kuwait menemukan mayat seorang pekerja Filipina yang hilang di lemari es di rumah majikannya di Kuwait.
Hubungan antara Filipina dan Kuwait menjadi tegang setelah kejadian tersebut.
Kementerian Luar Negeri Kuwait pada Rabu menyatakan Duta Besar Filipina untuk Kuwait Renato Pedro Ovila sebagai "orang yang tidak diinginkan" dan memintanya untuk meninggalkan negara itu dalam waktu satu minggu.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam sebuah konferensi pers pada awal Februari mengatakan, "Pekerja yang ingin pulang bisa datang ke Philippine Airlines dan mengambil tiket gratis untuk pulang berdasarkan perintah Kepresidenan."
Duterte menilai penerapan resmi di Kuwait tidak cukup untuk melindungi warga Filipina di sana.
"Orang Filipina bukan budak siapa pun di mana pun," kata Duterte.
Duterte menyatakan telah melarang tenaga kerja wanita Filipina pergi ke Kuwait dan keputusan itu dapat diperluas ke negara-negara Teluk lainnya.