Emre Gurkan Abay
MOSKOW
Rusia berusaha menjadi salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar dunia, berkat banyaknya investasi asing, meskipun AS menjatuhkan sanksi pada beberapa entitas Rusia.
Sampai beberapa tahun lalu, otoritas Rusia selalu skeptis soal prospek berkompetisi dalam pasar global LNG yang didominasi oleh Qatar, Australia, Algeria, Indonesia dan AS.
Kini mereka berkata Rusia akan segera memiliki porsi jauh lebih banyak di pasar global LNG.
Desember tahun lalu, Menteri Energi Rusia Alexander Novak berkata porsi Rusia di pasar global LNG dapat naik sebesar 15-20 persen pada 2035.
Baru-baru ini, pada Februari, Wakil Menteri Energi Kirill Molodstov berkata Rusia mengambil langkah menuju penguasaan pasar LNG dengan berhati-hati.
"Kami memasuki pasar ini tidak terlalu cepat, dan tidak terlambat. Tepat pada waktunya. Salah satu keuntungan pasar LNG adalah, dia sangat fleksibel," ujarnya dalam wawancara dengan harian Rusia, Vedomosti.
Rusia mengekspor 10,8 juta ton LNG tahun lalu, dan membidik untuk meningkatkan angka ini menjadi 20 juta ton di akhir tahun.
Ekspor LNG negara ini diperkirakan mencapai 52 juta kubik meter per tahun pada 2040, menurut Laporan Perkiraan Energi Statistik Dunia British Petroleum 2018
Jepang, China dan Korea Selatan, yang secara total menyumbang 60 persen impor LNG global, diprediksi tetap menjadi pasar utama Rusia. Ekspor LNG Rusia ke negara-negara ini naik 48,2 persen dari Januari sampai Agustus dibandingkan periode sama pada 2017, dan mencapai 15 juta kubik meter.
Novatek pimpin pertumbuhan LNG Rusia
Novatek, perusahaan gas alam independen terbesar Rusia, akan menjadi salah satu arsitek utama naiknya kompetisi negara tersebut di pasar global LNG.
Proyek Yamal LNG, yang diberi investasi sebesar USD27 juta di bawah kepemimpinan Novatek, telah menjadi fasilitas ekspor kedua di Rusia.
Dengan berakhirnya kuartal pertama 2019, kilang ini diprediksi memproduksi kapasitas 16,5 juta ton per tahun. Sahamnya dimiliki oleh Novatek sebanyak 50,1 persen, sementara Total dari Prancis dan CNPC dari China memiliki masing-masing 20 persen, sementara dana dari proyek Jalan Sutra China memiliki sisanya sebanyak 9,9 persen.
Pengiriman LNG pertama sebanyak 170 ribu kubik meter dari kilang tersebut adalah ke Inggris pada Desember 2017.
Total juga memiliki 10 persen saham di proyek Arctic LNG 2 milik Novatek, yang diperoleh di Forum Ekonomi Internasional di St. Ptersburg pada Mei.
Dengan proyek yang diprediksi mendulang investasi sebesar USD25,5 miliar ini, sekitar 20 juta ton LNG akan diproduksi mulai 2022. Selain perusahaan-perusahaan China, beberapa perusahaan Saudi juga tertarik pada proyek ini.
Gazprom juga ingin menguasai pasar
Gazprom, produsen dan eksportir gas alam dunia, juga menginginkan bagian lebih besar dengan operasi untuk fasilitas LNG Baltic dan Vladivostok.
Baltic LNG akan memiliki kapasitas tahunan sebanyak 10 juta ton dan membutuhkan investasi sebesar USD18 juta.
Kilang LNG Vladivostok, di sisi lain, mendapatkan investasi sebesar USD13 juta, dan kapasitas tahunan sebesar 13,6 juta ton.
Menurut perkiraan yang dibuat oleh Gazprom, saham perusahaan di pasar ekspor LNG global diprediksi akan mencapai 6 persen pada 20205.
Sanksi yang merongrong investasi
Sanksi-sanksi kepada industri energi Rusia menjadi salah satu tantangan dalam proyek-proyek LNG, terutama dalam produksi gas alam lepas pantai.
Menurut laporan dari Kementerian Sumber Daya Alam pada Desember 2017 soal sanksi-sanksi yang dijatuhkan As dan negara-negara Barat lain, banyak proyek LNG baru terpaksa dibatalkan karena banyaknya tekanan pada investor-investor asing, juga pembatasan pada masuknya teknologi dan peralatan baru ke negara tersebut.
Di sisi lain, investor dari Total dan China, yang belum bertekuk lutut pada tekanan Barat, tetap melanjutkan investasi mereka di Rusia.
news_share_descriptionsubscription_contact

