İqbal Musyaffa
27 September 2018•Update: 27 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) menyebut volatilitas nilai tukar rupiah masih terjaga di bawah 10 persen dengan tingkat depresiasi year to date sebesar 8,97 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers seusai rapat dewan gubernur di Jakarta, Kamis, mengatakan depresiasi rupiah masih lebih baik dari India, Afrika Selatan, Brasil, dan Turki.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah menurut Perry, relatif terbatas selama September. Pada 26 September nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp14.905 per dolar AS. Sementara pada Agustus lalu rata-rata pelemahan rupiah sebesar 1,05 persen.
“Bank Indonesia terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, serta menjaga bekerjanya mekanisme pasar dan didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan,” urai Perry.
Perry menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga volatilitas rupiah serta kecukupan likuiditas di pasar sehingga tidak menimbulkan risiko terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Selain itu, BI dan pemerintah terus berkoordinasi untuk menurunkan defisit transaksi berjalan (CAD).
“Dengan langkah ini diharapkan kepercayaan investor global semaikn kuat dan mendukung aliran modal asing masuk ke Indonesia untuk menopang stabilitas nilai tukar rupiah dan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan,” jelas Perry.
Kebijakan BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menurut Perry, sesuai dengan nilai fundamentalnya dan bekerja sesuai dengan mekanisme pasar. Sepanjang mekanisme pasar berjalan, perkembangan nilai tukar sangat dipengaruhi pasar.
“BI tidak segan lakukan stabilitasi dan menjaga nilai tukar khususnya pada volatiltasnya dan bukan pada levelnya, sesuai dengan perkembangan yang terjadi termasuk perkembangan fundamental,” lanjut dia.