Muhammad Nazarudin Latief
27 September 2018•Update: 27 September 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia-Tunisia telah mencapai kesepakatan perjanjian Preferential Trade Agreement (PTA) untuk mendorong perdagangan bilateral di antara kedua negara.
Direktur Perundingan Bilateral, Kementerian selaku Ketua Tim Perunding ITPTA, Ni Made Ayu Marthini mengatakan dengan perjanjian ini, kedua negara sepakat untuk menurunkan tarif barang-barang yang diperdagangkan.
“Draft text PTA sudah disepakati, selanjutnya kedua pihak fokus pada pembahasan akses pasar,” ujar dia dalam siaran pers, Kamis.
Menurut Made, delegasi kedua negara menunjukkan semangat yang sama untuk menyelesaikan perundingan karena akan mendorong pelaku usaha kedua negara meningkatkan perdagangan.
Selain draft text PTA, delegasi Indonesia dan Tunisia juga membahas draft Rules of Origin atau ketentuan asal barang. Kedua delegasi akan melakukan pertukaran data tarif serta daftar produk-produk unggulan yang akan diusulkan untuk penurunan tarif (request list).
Diharapkan perundingan PTA dapat diselesaikan pada akhir tahun 2018, kata Made.
“Setelah perundingan putaran ke-2 ini, kedua pihak akan terus berkomunikasi dan melakukan pertukaran data perdagangan, data tarif sebelum perundingan putaran ke-3,” terang Made.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari perundingan putaran pertama yang telah dilaksanakan di Tunis, Tunisia pada 25-26 Juni lalu.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pernah memimpin kunjungan misi dagang ke Tunisia sekaligus meluncurkan secara resmi dimulainya perundingan Indonesia-Tunisia PTA pada 25 Juni.
Tunisia merupakan salah satu pasar nontradisional potensial di kawasan Afrika bagian utara. Dari hasil kunjungan tersebut terbuka peluang ekspor produk-produk unggulan Indonesia ke Tunisia seperti tuna, rempah-rempah, kopi, aksesori kamar mandi, dekorasi rumah, dan perhiasan.
Total perdagangan kedua negara pada 2017 sebesar USD88 Juta. Nilai tersebut terdiri dari ekspor Indonesia sebesar USD55 Juta dan impor sebesar USD32,7 juta, sehingga Indonesia surplus sebesar USD 22,4 Juta.
Komoditas ekspor Indonesia ke Tunisia pada 2017 adalah minyak kelapa, biji palem, benang, oxygen-function amino-compounds, dan benang filamen sintetik.
Sedangkan impor utama Indonesia adalah kurma, fosfonat, peralatan listrik, kawat berisolasi dan kabel, serta aluminium tanpa tempa.