İqbal Musyaffa
19 September 2018•Update: 20 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuan hingga 25 basis poin pada rapat dewan gubernur BI yang akan datang.
Kenaikan suku bunga ini akan diambil BI untuk membatasi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kata ekonom Bank Permata Josua Pardede seusai diskusi rupiah di gedung DPR MPR di Jakarta, Rabu.
Salah satu faktor yang memaksa keputusan ini diambil adalah defisit perdagangan yang masih terus terjadi. Sebagai informasi, pada Juli hingga Agustus defisit perdagangan mencapai USD3 miliar.
“Jadi kemungkinan defisit perdagangan pada kuartal III relatif tinggi,” ungkap Josua.
Dia juga mengatakan pada September ini bank sentral AS, Federal Reserve, juga akan kembali menaikkan suku bunganya sehingga langkah kenaikan suku bunga acuan perlu diambil BI untuk meredam volatilitas rupiah.
Volatilitas nilai tukar rupiah, menurut Josua, juga akan dipengaruhi oleh kebiajakan retaliasi (balasan) China atas peningkatan tarif impor produk dari negara tersebut oleh AS.
Nilai tukar juga akan terpengaruh pada efektivitas kebijakan pengendalian impor yang dilakukan pemerintah serta seberapa banyak devisa hasil ekspor (DHE) yang bisa dibawa masuk ke dalam negeri dan dikonversi ke dalam rupiah.
Josua lalu mengingatkan bahwa Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pernah berkata 50 persen DHE harus disimpan di dalam negeri selama 5 bulan. Selain itu, juga ada kewajiban penggunaan letter of credit (L/C) dari perbankan nasional untuk ekspor produk-produk pertambangan, batu bara, migas, dan kelapa sawit.
“Itu akan meningkatkan suplai dolar sehingga defisit transaksi berjalan pada kuartal III dan IV bisa sedikit turun,” urai Josua.
Kenaikan suku bunga acuan, menurut dia, masih akan dilakukan BI sekali lagi pada tahun ini untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed pada tahun depan yang sekitar 50 hingga 75 basis poin.
“Suku bunga 5,75 persen sudah cukup oke sampai akhir tahun untuk meredam defisit transaksi berjalan dan depresiasi nilai tukar rupiah,” tambah dia.
Terkait nilai tukar, dia melihat tekanan terhadap rupiah pada tahun ini masih sangat dinamis dengan depresiasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan pada tahun depan. Oleh karena itu, kenaikan suku bunga BI pada tahun ini juga cukup signifikan, hingga 125 basis poin.
Kenaikan suku bunga BI ini disebut Josua sebagai kompensasi dari kenaikan suku bunga The Fed dan juga karena kondisi dari pasar negara berkembang yang tidak terlalu bagus sehingga suku bunga BI harus menyamai kenaikan suku bunga The Fed.
“Harapannya kalau nilai tukar rupiah stabil semestinya tidak perlu lagi ada kenaikan suku bunga,” imbuh Josua.