Muhammad Nazarudin Latief
12 Desember 2017•Update: 12 Desember 2017
Muhamamd Latief
JAKARTA
Indonesia berkomitmen untuk melawan proteksionisme perdagangan yang diberlakukan oleh beberapa negara, karena menghambat tercapainya tata perdagangan dunia yang adil.
Seperti dikatakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, hal itu akan diperjuangkan sebagai kesepakatan dunia dalam Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (KTM WTO) ke-11 di Buenos Aires, Argentina, 10-13 Desember.
Namun, pemerintah tetap berkomitmen melindungi kepentingan nasional, terutama terkait sektor pertanian dan industri, di tengah situasi kompetisi yang kian liberal.
“Indonesia berkomitmen mendorong perdagangan multilateral yang adil, di tengah bayang-bayang proteksionisme yang mengganggu tatanan perdagangan,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu.
Menteri Enggar dan rombongannya saat ini berada di Argentina setelah menyelesaikan beberapa misi dagang dan menghadiri KTM WTO serta Pertemuan Menteri G-33.
Indonesia, kata Menteri Enggar, meminta negara-negara anggota WTO memulai perlawanan terhadap proteksionisme. Anggota WTO, menurutnya harus aktif menginiasi sistem perdagangan dunia yang adil.
Dalam KTM WTO ke-11 ini, Indonesia akan terlibat dalam pembahasan beberapa isu penting, antara lain Public Stockholding for Food Security Purposes (PSH) dan Special Safeguard Mechanism (SSM). Kedua isu tersebut juga diperjuangkan oleh negara-negara anggota G-33.
Isu-isu lainnya yang akan dibahas antara lain subsidi perikanan, e-commerce, fasilitas investasi, serta perdagangan jasa.
Direktur Jenderal WTO Roberto Azevêdo mengatakan anggota organisasi dagang ini harus lebih responsif dan inklusif menanggapi kebutuhan negara anggota.
Menurutnya, WTO berkomitmen mendorong perdagangan multilateral ke arah yang lebih baik. Negara-negara anggota, lanjut Azevêdo, harus dapat memperkuat sistem perdagangan multilateral untuk melawan sentimen negatif dan bayang-bayang proteksionisme.