Erric Permana
23 Mei 2018•Update: 23 Mei 2018
Erric Permana
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyarankan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Pendidikan Tinggi lebih waspada dalam menyaring guru dan dosen.
Ini dilakukan, kata pejabat BNPT, untuk mencegah radikalisme di lembaga pendidikan menyusul adanya anak-anak yang terlibat dalam aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.
“Bukan pelajaran saja, tapi termasuk guru dan dosennya. Rekrutmen itu harus hati-hati. Menteri Agama saya ingatkan, juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Pendidikan Tinggi,” ujar Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius di Kantor Presiden, Jakarta, pada Selasa usai mengikuti rapat terbatas mengenai terorisme.
Menurut Suhardi, saat ini ideologi terorisme menargetkan semua lapisan masyarakat dari dewasa hingga anak-anak. Anak-anak, ujar dia, terutama sangat mudah terkena propaganda terorisme.
“Sekarang kan anak kecil gampang dimasukin, apa yang dikasih akan terngiang,” tambah dia.
Dia pun meminta agar karakter bangsa juga dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran bagi siswa SD, SMP dan SMA.
“Di Jepang itu sampai kelas 2 SD mereka diajarkan manner, etika menghadapi orang tua dan guru itu masuk nasionalisasi, itu tidak ditinggalkan. Kalau dikasih hanya matematika dan pelajaran lain memang pintar, tapi kan mereka tidak punya moral kita,” jelas dia.
Beberapa waktu lalu Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahwa serangan bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, Rusunawa Sidoarjo, dan Polres Surabaya masing-masing berasal dari satu keluarga. Aksi itu tak hanya melibatkan laki-laki, tapi sekaligus perempuan dan anak-anak.
Pembom tiga gereja di Surabaya Senin lalu itu dilakukan oleh Dito Oepriarto bersama istri Puji Kuswati dan kedua anaknya, yaitu YF dan FH juga mengajak serta dua anak lainnya yang masih SD.
Sementara bom di Rusunawa Sidoarjo dilakukan oleh Anton Ferdiantono (ayah), Puspita Sari (ibu), beserta empat anaknya.
Sedang bom di Polres Surabaya dilakukan oleh Tri Murtiono (ayah), Tri Ermawati (ibu), dan ketiga anaknya.