02 Mei 2018•Update: 02 Mei 2018
Shenny Fierdha
JAKARTA
Buruh mengkritik bahwa pemerintah tidak mengerti makna May Day yang sesungguhnya serta mengkritik slogan "May Day is fun day" yang kerap digaungkan menjelang peringatan hari buruh internasional pada 1 Mei.
Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) yang juga merangkap sebagai Koordinator Front Pembela Rakyat (FPR) Rudi H. B. Daman menilai bahwa pemerintah tidak memahami sejarah hari buruh atau May Day sehingga memunculkan slogan tersebut yang menurutnya tidak pantas.
Slogan "May Day is fun day" yang berarti "May Day adalah hari bergembira" menurut Rudi tidaklah sesuai sebab bagaimana mungkin buruh bisa bergembira sementara kesejahteraan mereka tidak dipedulikan pemerintah.
"Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan, tidak mengerti sejarah May Day yakni sejarah panjang perjuangan buruh untuk menghapus sistem perbudakan dan jam kerja panjang yang kerap dialami oleh para buruh," kritik Rudi usai memberikan orasi di hadapan ribuan massa buruh yang tergabung dalam GSBI di depan Monumen Nasional, Jakarta, Selasa.
Dia menyayangkan masih adanya sejumlah buruh yang bekerja 10-12 jam atau bahkan lebih dalam sehari dikarenakan buruh berusaha mendapat uang lebih dari kerja lembur, maupun karena target perusahaan yang dipatok sangat tinggi.
Sudah seharusnya momen May Day dimanfaatkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan untuk mengundang perwakilan buruh maupun pemimpin perserikatan buruh ke Kementerian untuk mengungkapkan masalah yang dialami di tempat kerja.
"Di negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, Taiwan, ada banyak organisasi buruh migran Indonesia. Pemerintah bisa mengundang dan mengajak mereka berdiskusi untuk mengetahui bagaimana dampak regulasi selama ini terhadap mereka. Namun hal ini tidak pernah dilakukan oleh pemerintah. Menteri Ketenagakerjaan [Hanif Dhakiri] tidak paham persoalan buruh di Indonesia," kecam Rudi.
Dia menilai bahwa pemerintah selama ini hanya memikirkan kapitalisme dan tidak memikirkan nasib para buruh.