Pizaro Gozali İdrus
12 Desember 2017•Update: 13 Desember 2017
Pizaro Gozali İdrus
JAKARTA
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak Muslim dunia mengikis Islamophobia dengan menyuarakan Islam sebagai agama damai dalam Konferensi Internasional "Perdamaian Dunia dan Islamophobia"di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Senin.
Menteri Lukman mengatakan peristiwa 9/11 September di AS telah menimbulkan ketegangan dalam hubungan Islam dan Barat.
Menurut Menteri Lukman, meski dunia Islam mengecam dan mengutuk aksi tersebut, kencenderungan menjadikan Islam sebagai ‘tersangka’ terus semakin meningkat.
Setiap aksi kekerasan dilakukan sekelompok kecil muslim, Islam selalu dikaitkan sebagai agama kekerasan.
Kondisi ini diperburuk dengan kampanye Islamophobia yang menyuburkan kebencian dan ketakutan terhadap Islam.
“Di tengah situasi seperti ini, kita harus terus menyuarakan secara lantang Islam sebagai agama kedamaian,” terang Menteri Lukman.
Menteri Lukman menerangkan esensi ajaran kedamaian bisa ditemukan dari nama Islam yang berasal dari satu akar kata dengan al-silm yang berarti kedamaian.
Islam mengajarkan umatnya untuk menebar kedamaian melalui ucapan dan perbuatan, baik kepada yang dikenal maupun tidak.
“Ketika umat Islam diminta untuk saling menebar salam, berarti tidak ada tempat bagi kekerasan dan kebencian,” tutur dia.
Mengutip hadis, Menteri Lukman mengatakan Rasulullah pernah berpesan, “Kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan kamu tidak dinyatakan beriman secara benar sampai kamu bisa saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan cara yang membuatmu bisa saling mencintai? Tebarkan salam kedamaian di antara kamu."
“Kita harus bisa membangun ketahanan dalam tubuh umat Islam agar tidak terjebak pada pemahaman ekstrem yang akan merusak citra Islam dan umat Islam,” ajak Menteri Lukman.
Menurut Menteri Lukman, Islam dan Barat harus membangun dialog untuk mengikis Islamophobia. Membesar-besarkan tesis benturan peradaban hanya akan menciptakan rasa takut dan cemas, sehingga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab.
“Sejak awal, Islam tidak mengenal konsep benturan antar peradaban. Sebaliknya, Islam mengajak untuk membangun jembatan komunikasi melalui dialog,” ucap dia.
Menteri Lukman mengakui tidak mudah membangun dialog di tengah hilangnya kepercayaan masing-masing pihak.
Jika masyarakat Barat memiliki ‘perasaan’ terancam dari umat Islam, maka umat Muslim juga merasakan luka mendalam akibat kolonialisme Barat, terutama dalam masalah Palestina.
“Untuk itu, masing-masing pihak harus bisa memahami perasaan pihak lain, dan menempatkan akal sehat, sehingga dialog dapat berlangsung secara obyektif,” harap Menteri Lukman.
Sekitar 700 tokoh ulama dan cendekiawan dari berbagai negara hadir dalam konferensi ini. Sejumlah perwakilan dari Indonesia antara lain Quraish Shihab, Amany Lubis, Amal Fathullah, dan Muchlis Hanafi.