Muhammad Abdullah Azzam
22 Oktober 2018•Update: 22 Oktober 2018
Alaattin Dogru
DAKAR
Sebanyak 13 pemberontak tewas dalam bentrokan antara tentara dan kelompok separatis di wilayah Anglophone (wilayah berbahasa Inggris) di barat laut Kamerun.
Komandan Wilayah Utara-Barat Jenderal Aga Robinson mengatakan kepada media bahwa kelompok separatis menyerang sebuah fasilitas milik Kepresidenan Kamerun di Kota Nwa.
Robinson mengatakan bahwa seorang pria dan anaknya tewas dalam serangan yang terjadi pada kemarin Minggu malam itu, sementara kelompok separatis juga menculik dua warga sipil di desa itu. Sejauh ini, milter telah mengirim pasukan tambahan ke daerah tersebut.
Minggu lalu, 10 pemberontak terbunuh dalam bentrokan antara tentara dan kelompok separatis di wilayah yang sama.
Kamerun telah diriuhkan oleh protes selama lebih dari setahun, dengan penduduk di daerah yang berbahasa Inggris mengaku telah dipinggirkan selama beberapa dekade oleh pemerintah pusat dan kelompok mayoritas yang berbahasa Prancis.
Para demonstran menyerukan untuk kembali ke federalisme atau ke negara berbahasa Inggris, yang oleh para demonstran disebut sebagai "Republik Federal Ambazonia".
Krisis di wilayah Anglophone, yang dimulai sebagai sebuah demonstrasi sektoral, berkembang dengan cepat menjadi sebuah pemberontakan bersenjata, menyusul represi kekerasan pasukan keamanan Kamerun pada 22 September dan 1 Oktober 2017, menurut International Crisis Group (ICG).