Muhammad Nazarudin Latief
26 Juli 2018•Update: 27 Juli 2018
Nazarudin Latief
JAKARTA
Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menyepakati target perdagangan hingga USD50 miliar dalam sebuah peta jalan (roadmap) yang disepakati oleh menteri perdagangan kedua negara, yaitu Enggartiasto Lukita dan Wilbur Ross.
Menteri Enggar mengatakan AS mempertimbangkan dengan positif permintaan Indonesia untuk tetap mendapatkan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dan pengecualian dari tarif impor produk baja serta aluminum.
“Jika produk Indonesia spesifik dan tidak diproduksi oleh industri dalam negeri AS, kita akan tetap mendapatkan GSP “ ujar Menteri Enggar dalam siaran persnya, Kamis.
“Produk besi baja dan aluminium dari Indonesia bukanlah pesaing produk lokal di AS. Besi baja dan aluminium produksi Indonesia berbeda dengan yang diproduksi di AS dan pangsa pasarnya berbeda.”
Menteri Enggar dan Menteri Ross berdiskusi soal akses perdagangan barang, jasa serta investasi di Indonesia. Isu yang dibahas antara lain pertanian, perdagangan digital dan layanan finansial.
Secara lebih spesifik dalam isu pertanian, kedua menteri membahas prospek produk kedelai, hortikultura serta susu. Kedua menteri juga membahas kebijakan maritim baru AS yaitu seafood import monitoring program (SIMP) agar tidak mempengaruhi akses perikanan Indonesia ke pasar Amerika.
Menurut Menteri Enggar, isu perdagangan kedua negara, akan dirumuskan dalam sebuah peta jalan agar target-target yang ditetapkan bisa tercapai.
Total nilai perdagangan Indonesia dengan AS mencapai USD 25,9 miliar pada 2017. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia mencapai USD 17,79 miliar dan impor Indonesia sebesar USD 8,12 miliar, sehingga neraca perdagangan Indonesia terhadap AS surplus USD9,67 miliar.
Peningkatan kerja sama tekstil
Indonesia dan AS juga akan meningkatkan perdagangan di bidang tekstil serta garmen bahkan menjadi prioritas. Salah satu poin kerja sama di bidang tekstil dan produk tekstil adalah pembukaan akses pasar yang lebih luas pada kedua negara.
Konkretnya, AS akan mengekspor kapas ke Indonesia sebagai bahan baku produk tekstil lebih banyak, sebaliknya Indonesia akan meningkatkan ekspor produk tekstil ke AS.
Menurut Menteri Enggar, AS dapat mengekspor lebih banyak kapas ke Indonesia jika Indonesia dapat mengekspor lebih banyak produk garmen dan tekstil ke AS.
“Ini adalah kemitraan yang saling menguntungkan. Secara tidak langsung, kinerja perdagangan akan menyeimbangkan diri,” kata Mendag Enggar.
Dubes Indonesia di Washington DC, Budi Bowoleksono mengatakan ada banyak potensi perdagangan Indonesia-AS yang bisa dikembangkan. Kedutaan akan membantu pengusaha Indonesia yang berbisnis di negara ini.
Sebelumnya, Menteri Enggar juga menggalang dukungan importir AS untuk mengamankan Indonesia dari rencana review (peninjauan ulang) fasilitas GSP. Rencana pencabutan fasilitas ini dikhawatirkan oleh pengusaha di AS karena bisa membuat mereka kehilangan daya saing global dan mengganggu pasokan bahan baku.
GSP sendiri merupakan fasilitas pembebasan tarif bea masuk (nol persen) terhadap impor barang-barang tertentu dari negara-negara berkembang. Indonesia merupakan salah satu negara penerima fasilitas tersebut.