Hayati Nupus
20 Juni 2019•Update: 21 Juni 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Gletser Himalaya mencair dua kali lebih cepat sejak awal abad ini, lansir Channel News Asia.
Kesimpulan para peneliti itu menekankan krisis iklim berdampak pada ancaman pasokan air bagi ratusan juta orang di seluruh Asia.
Sejak lama ilmuwan mencoba memperkirakan seberapa cepat kenaikan suhu global akibat pembakaran batu bara, minyak dan gas yang mengikisi lanskap es di kawasan, atau kutub ketiga bumi.
Analisis baru hasil pengamatan satelit selama 40 tahun di India, China, Nepal, dan Bhutan menunjukkan permukaan gletser berkurang sekitar satu setengah kaki vertical setiap tahun, sejak 2000.
Laju pengurangan itu bertambah dua kali lipat ketimbang sepanjang 1975 dan 2000.
“Ini gambaran paling jelas tentang seberapa cepat gletser Himalaya mencair selama kurun waktu ini, dan mengapa,” ujar Joshua Maurer, pemimpin penulisan riset sekaligus kandidat PhD di Lamont-Doherty Earth Observatory, Universitas Columbia.
Meski penelitian yang diterbitkan Science Advances tersebut tak menyebutkan berapa banyak tepatnya jumlah es yang mencair, Maurer memperkirakan gletser kehilangan seperempat massa selama 40 tahun terakhir.
Cepatnya es mencair tampaknya merupakan penyebab permukaan air sungai meninggi selama musim panas, namun para ilmuwan khawatir soal dampak jangka panjang pada irigasi dan pasokan air minum untuk memenuhi 800 juta orang.
Joseph Shea, pakar geografi glasial University of Northern British Columbia, yang tak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan temuan itu menunjukkan bahwa bahkan es di pegunungan tertinggi dunia juga dipengaruhi oleh suhu tinggi.
“Dalam jangka panjang, ini akan menyebabkan perubahan dan besarnya aliran di wilayah padat penduduk,” kata Shea.