Emre Aytekin
10 November 2018•Update: 10 November 2018
Emre Aytekin
ANKARA
Seorang ulama Saudi mendesak AS untuk meninjau kembali dukungannya bagi Arab Saudi setelah pembunuhan seorang kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi.
Dalam artikel berjudul “Mengapa AS Tidak Dapat Mengontrol MBS [Mohammad bin Salman]” untuk majalah Foreign Affair, Madawi Al-Rasheed, seorang profesor tamu di Middle East Center of London School of Economics, menulis: “AS dapat memulai dengan dukungan bersyarat untuk MBS jika dia mau menjamin kebebasan rakyat dan supremasi hukum.
"Ini akan membantu posisi bin Salman yang selama ini dikenal mengabaikan pandangan komunitas internasional dan telah melanggar norma-norma diplomatik, terutama dengan Turki," Al-Rasheed menambahkan.
Khashoggi, seorang kolumnis The Washington Post dan warga negara Saudi, terbunuh pada 2 Oktober di dalam Konsulat Saudi di Istanbul.
Setelah berminggu-minggu menyangkal keterlibatan, Saudi mengaku Khashoggi dibunuh di konsulat tetapi menyangkal tuduhan bahwa keluarga kerajaan terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Sejauh ini, 18 orang, termasuk petugas keamanan, telah ditangkap di Arab Saudi terkait pembunuhan Khashoggi.
Pekan lalu, jaksa Turki mengumumkan temuan awal yang mengatakan Khashoggi dicekik sampai mati dalam pembunuhan terencana sesaat setelah dia memasuki konsulat.
Kantor Jaksa Penuntut Umum Istanbul mengatakan bahwa jasad Khashoggi dibuang setelah dimutilasi.
Pihak berwenang Saudi sejauh ini mengklaim tidak mengetahui keberadaan jasadnya.
"Totalitarianisme Saudi baru, yang membutuhkan kepatuhan penuh dan kesetiaan kepada putra mahkota, telah memuncak dalam skandal pembunuhan Khashoggi," tulis Al-Rasheed.
“Tetapi jika AS melihat penyelesaian pembunuhan Khashoggi semata-semata urusan bisnis dengan Saudi, ini bukanlah peristiwa terakhir yang akan kita lihat.
"Sikap tidak peduli AS akan mengirim pesan pada MBS: putra mahkota muda bisa lolos dari kasus pembunuhan," pungkas Al-Rasheed.