17 September 2017•Update: 18 September 2017
Ratusan ulama dari Jawa Timur mendeklarasikan pernyataan dan komitmen menolak terorisme dan radikalisme.
Deklarasi tersebut berlangsung di Situbondo dalam pertemuan ulama, pemerintah, dan tokoh Masyarakat di Pesantren Al Munir, Besuki Situbondo, yang digagas Rumah Keamanan Nasional (Kamnas), Minggu.
Peserta deklarasi juga menyatakan sumpah setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua Umum Rumah Kamnas, Maksum Zuber, mengatakan paham radikalisme sudah meresahkan masyarakat, terutama kalangan agama.
"Kami menolak paham radikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945," tegasnya.
Kompleksitas persoalan radikalisme dan terorisme menurutnya membutuhkan sinergitas segenap komponen.
“Melalui momen halaqah ini kita berharap mampu merumuskan tekad bulat sinergitas antar komponen bangsa untuk melawan radikalisme dan terorisme," tambahnya.
Di kesempatan yang sama, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munir Besuki, DR KH Achmad Abu Naim Muiz, mengatakan, para ulama dan da'i harus menjadi pelopor untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam persatuan.
"Ulama dan da'i harus menjadi tauladan dalam persatuan, termasuk membimbing masyarakat selalu berada di jalan tengah," lanjutnya.
Selanjutnya, ia menghimbau kepada masyarakat agar tidak terpengeruh ajaran ekstrim dengan konsep jihad yang keliru.
Oleh karena itu, kiai dan para ustadz harus bisa membentengi umat di desa-desa dari ajaran ekstrim.
"Para kiai, ustad dan santri harus bisa menyampaikan kepada masyarakat dan mengajarkan Islam rahmatal lil alamin,” tegasnya.
Bibit-bibit radikal
Achmad Naim menilai bibit-bibit aliran paham radikal sudah ada di Jawa Timur. Salah satu indikasinya adalah mudah mengkafirkan orang lain.
Oleh karena itu, peran ulama membentengi umat serta mengusung kembali persatuan umat di Indonesia menjadi semakin penting.
Selain deklarasi, para ulama juga menerbitkan buku pintar berisi masukan ulama dari sisi keamanan serta potensi dan gejala ancaman bagi persatuan Indonesia selama lima tahun kedepan.
Masukan untuk keamanan negara dalam buku tersebut menggunakan tinjauan dari sisi sosial masyarakat, budaya masyarakat, ekonomi, serta munculnya berbagai paham-paham di masyarakat dan distorsi politik.
"Paham kita lawan dengan paham. Buku kita lawan dengan buku," ujarnya.
Para kiai dan ustadz di masjid-masjid perkampungan akan digerakkan untuk ikut menangkal paham radikalisme dan terorisme.