İqbal Musyaffa
16 Mei 2018•Update: 16 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah, belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekspor, kata analis.
Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan kepada Anadolu Agency, Rabu, menjelaskan terhambatnya pertumbuhan ekspor Indonesia tidak terlepas dari masih panasnya perang dagang yang terjadi antara AS dan Tiongkok.
“Efek pelemahan rupiah kalah dibandingkan efek negatif perang dagang dan penurunan harga komoditas sehingga ekspor melambat,” tambah Evan.
Investor asing,, menurut dia, masih menanti hasil pertemuan perdagangan Tiongkok dan AS pekan ini.
“Duta besar AS untuk Tiongkok, Terry Branstad, mengatakan kedua pihak masih sangat jauh berbeda soal resolusi tarif,” imbuh dia.
Hal tersebut terlihat dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik yang menyebut Indonesia mengalami defisit perdagangan pada bulan April sebesar USD1,62 miliar. Ekspor yang berhasil diraih sebesar USD14,47 miliar sementara impor lebih tinggi yakni sebesar USD16,09 miliar.
Kinerja ekspor Indonesia pada April 2018 merosot tajam dari bulan Maret yang mencatatkan surplus USD1,09 miliar.
“Defisit neraca perdagangan jauh dari ekspektasi analis sebesar USD400 juta,” ujar Evan.
Dia menambahkan, pertumbuhan ekspor yang hanya 9,01 persen sedangkan pertumbuhan impor sebanyak 34,68 persen memberikan sentimen negatif bagi rupiah hari ini.
“Rupiah dibuka di angka Rp14.090 per dolar AS terkait penguatan USD terhadap major currency,” jelas dia.