Iqbal Musyaffa
23 September 2020•Update: 23 September 2020
JAKARTA
Dalam perdagangan sore ini rupiah ditutup melemah tipis 30 poin di level Rp14.815 dari penutupan sebelumnya di level Rp14.785 per dolar AS.
Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dalam perdagangan hari Kamis kemungkinan rupiah akan dibuka melemah 20- 50 poin di level Rp14.800-14.870 per dolar AS.
Sementara itu, IHSG pada penutupan sore ini terkoreksi 0,33 persen ke level 4.917,96 dengan nilai transaksi Rp6,62 triliun dan dana investor asing yang keluar sebesar Rp203,26 miliar.
Ibrahim menjelaskan faktor eksternal yang mempengaruhi pelemahan rupiah dan IHSG antara lain rilis data ekonomi AS yang menunjukkan bahwa penjualan rumah melonjak menjadi 6 juta pada Agustus, yang merupakan level tertinggi dalam hampir 14 tahun.
“Hal ini menempatkan data sentimen PMI bulan September, yang akan dirilis Rabu nanti, menjadi fokus yang kuat,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Rabu.
Selain itu, komentar dari Presiden Chicago Federal Reserve AS Charles Evans juga mendorong dolar lebih tinggi, setelah dia mengatakan pelonggaran kuantitatif lebih lanjut mungkin tidak memberikan dorongan tambahan untuk ekonomi AS.
“Dia juga mengisyaratkan bahwa mungkin saja Fed menaikkan suku bunga sebelum inflasi mulai mencapai rata-rata 2 persen,” imbuh Ibrahim.
Kemudian, munculnya kasus Covid-19 di Eropa dan AS juga telah mendorong investor ke arah greenback, dengan Prancis, Spanyol, dan Inggris mengalami kembali munculnya kasus tersebut.
Selanjutnya, Ibrahim mengatakan faktor pada sisi internal disebabkan oleh pasar yang terus memantau perkembangan tentang rancangan amandemen undang-undang Bank Indonesia yang diajukan DPR pada bulan ini.
Ibrahim mengatakan dalam rancangan tersebut menteri keuangan bisa mempengaruhi strategi BI untuk membantu mendanai defisit anggaran.
“Ini dianggap janggal sehingga dipertanyakan oleh investor asing,” kata dia.
Ibrahim menambahkan bahwa RUU tersebut masih dalam tahap awal pembahasan di Badan Anggaran DPR serta rancangan ini bisa memakan waktu berbulan-bulan sehingga berdampak negatif terhadap pasar.
“Apalagi masalah ini muncul saat Indonesia akan terkena dampak resesi walaupun sebagian besar negara-negara juga sudah mengalami resesi,” tambah Ibrahim.
Menurut dia, negara-negara seperti AS dan Uni Eropa walaupun mengalami kontraksi ekonomi yang terlalu parah, namun tidak langsung merevisi undang-undang perbankannya.
Ibrahim mengatakan perbandingan tersebut membuat pasar mempertanyakan keabsahan revisi undang-undang Bank Indonesia walaupun sudah ada pernyataan politis yang membantah adanya ancaman terhadap independensi Bank Indonesia.
Dia menambahkan pelemahan rupiah dan IHSG juga didorong oleh pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait kemungkinan resesi pada kuartal ketiga yang membuat investor berpikir ulang untuk berinvestasi di Indonesia, terutama pada Surat Utang Negara.